Evangelisasi Baru

Semangat dari Konsili Vatican II

“Melihat ke belakang untuk maju ke depan,” kalau kita melihat semangat dari Konsili Vatican II, maka kita akan dapat menyimpulkannya dalam dua hal yaitu ressourcement (kembali ke sumber) dan aggiornamento (updating / memperbaharui). Dalam hubungannya dengan evangelisasi, maka Gereja Katolik kembali ke sumber, yaitu Alkitab, Tradisi dan Magisterium Gereja, dan melihat kodrat dari Gereja yang memang harus missioner. Dalam dokumen Lumen Gentium (LG), kita melihat akan hakekat dari Gereja, yang merupakan Tubuh Mistik Kristus, yang kelihatan (means) dan tidak kelihatan (end), yang mengemban tugas mewartakan Kristus kepada segala bangsa. Menyadari bahwa Kristus sendiri yang mengutus para rasul (lih. Yoh 20:21) untuk mengemban amanat agung Kristus ke segala bangsa (lih. Mt 28:19-20; Kis 1:8), maka Gereja dengan penuh ketaatan mengemban misi ini. Inilah sebabnya, secara kodrat, Gereja mempunyai sifat misioner. Dan sifat misioner ini dimungkinkan karena Roh Kudus sendiri yang menjadi Roh dari Gereja. Karena Kristus, sebagai Kepala Gereja menginginkan agar seluruh umat manusia memperoleh keselamatan, maka Gereja Katolik sebagai Tubuh Mistik Kristus harus mengemban misi ini berdasarkan inspirasi dan kekuatan dari Roh Kudus.

Pentingnya untuk memberitakan Kristus pada saat ini tidak dapat ditawar-tawar lagi, melihat kondisi jaman pada saat ini, yang dipenuhi dengan kebohongan materialisme, individualisme, dan sekularisme, relativisme. Bahkan umat beriman yang telah mengenal Kristus banyak yang bertindak dan hidup sebagaimana orang-orang yang belum mengenal Kristus. Inilah sebabnya, melihat tanda-tanda jaman, Paus Yohanes Paulus II menyebut mereka sebagai “practical atheism“. Seperti contoh di atas, kita melihat bagaimana setengah umat Katolik di Amerika memilih seseorang yang mendukung aborsi sebagai presiden mereka. Ini menunjukkan bagaimana mereka tidak menerapkan prinsip-prinsip kekristenan dalam mengambil keputusan penting di dalam hidup mereka.

Dua realitas inilah yang harus dihadapi oleh Gereja. Di satu sisi, Gereja menyadari mempunyai sifat misionaris, namun di satu sisi, kenyataan di dalam kehidupan, terlihat bagaimana orang-orang yang belum mengenal Kristus dan bahkan umat Allah sendiri banyak yang tidak hidup menurut jalan Tuhan. Untuk itulah, Gereja menyerukan evangelisasi baru, untuk kembali merangkul umat Allah dan menyadarkan mereka akan hakekat mereka sebagai umat kesayangan Allah, yang juga harus bertindak menurut hukum Allah. Gereja juga ingin menjangkau mereka yang belum mengenal Kristus, sehingga mereka juga dapat memperoleh kebenaran penuh dan diselamatkan.

“Mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah isi dari evangelisasi baru,” tidak ada perintah yang lebih utama daripada mengasihi Allah dan mengasihi sesama. (lih. Mt 22:37-40; Mk 12:30-31) Oleh karena itu, semua hal yang dilakukan oleh Gereja harus mendukung dua perintah pokok ini. Demikian juga dalam aktifitas evangelisasi baru, Gereja dan seluruh elemen Gereja – termasuk masing-masing dari kita – harus mencerminkan kasih kepada Tuhan dan kasih terhadap sesama yang didasarkan pada kasih kepada Tuhan. Hal ini dilakukan baik dengan sikap hidup yang baik, maupun dengan pemberitaan Injil secara terbuka.

“Mengasihi Allah” adalah pondasi dari evangelisasi baru

1. Dimensi Trinitas dan Kristologi

Untuk memberitakan kasih Allah, maka evangelisasi tidak dapat terlepas dari dimensi Trinitas. Kasih inilah yang membuat Allah Bapa telah mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk membebaskan dosa dan memanggil manusia kepada kehidupan yang kekal (lih. Yoh 3:16), yaitu dengan cara hidup kudus – yang hanya mungkin dicapai dengan karunia Roh Kudus.. Oleh karena itu, evangelisasi yang tidak memberitakan satu Allah dalam tiga Pribadi, tidak memberitakan kebenaran secara penuh. Inilah sebabnya, Paus Yohanes Paulus II memberikan program 3 tahun dari tahun 1997-1999, setelah melalui persiapan pertama tahun 1994-1996. Tahun 1997 diperuntukkan sebagai tahun Allah Putera, 1998 sebagai tahun Allah Roh Kudus, dan 1999 sebagai tahun Allah Bapa. Semua hal ini dijabarkan dalam dokumen Tertio Millennio Adveniente (persiapan untuk Yubelium tahun 2000), par. 35-54.

a) Pusat dari seluruh evangelisasi adalah pada pribadi Kristus. Inilah sebabnya, Paus Yohanes Paulus II, pada tahun pertama dari kepausanannya, memberikan ensiklik Redemptoris Hominis (1979) dan kemudian mulai tanggal 27 Agustus 1986 sampai April 1989, dia memberikan pelajaran tentang hal-hal sehubungan dengan Kristus, serta tambahan 28 pelajaran pada tahun 1997 atau tahun Allah Putera.

Dengan demikian, kita melihat bahwa kalau kita ingin berpartisipasi dalam evangelisasi, maka kita harus memberitakan Kristus – yang lahir, berkarya, menderita, wafat, mati, bangkit, dan naik ke Sorga. Bahkan kita harus turut serta mengikuti jejak Kristus, karena kita yang telah mati terhadap dosa, di dalam Kristus, – oleh Sakramen Baptis, akan bangkit bersama Kristus. (lih. Rm 6:4).

b) Jiwa dan kekuatan evangelisasi adalah Roh Kudus. Hasil dari pertukaran kasih Allah Bapa dan Allah Putera – yang dimanifestasikan secara penuh pada peristiwa penyaliban – maka Roh Kudus dicurahkan kepada Gereja dan setiap anggota Gereja. Paus Yohanes Paulus II kemudian mengeluarkan ensiklik “Dominum et Vivificantem” atau Roh Kudus di dalam hidup Gereja dan dunia pada hari Pentakosta, 18 Mei, 1986. Dia memberikan 7 refleksi tentang Roh Kudus tahun 1989 dan 80 pelajaran katekese dari 26 April 1989 sampai 3 Juli 1991, yang dilanjutkan dengan pengajaran tentang Roh Kudus selama tahun Roh Kudus (1998)

Inilah sebabnya, dalam setiap misi evangelisasi, kita semua harus bergantung pada karya Roh Kudus, karena Roh Kudus adalah jiwa dari Gereja. Roh Kuduslah yang membuat orang dapat bertobat, karena Roh Kuduslah yang menyatakan dosa kepada dunia. Roh Kudus-lah yang memberikan kita kekuatan untuk dapat melakukan misi evangelisasi. Dan Roh Kudus yang sama telah dicurahkan untuk Gereja dan menjadi jiwa dari Gereja.

c) Belas kasih Allah adalah kabar gembira dalam evangelisasi. Dalam evangelisasi baru, kita harus mendengungkan bahwa Allah berbelas kasih dan mengasihi umat-Nya. Dia tidak hanya adil, namun lebih daripada itu, Dia berbelas kasih. Bahkan di dalam ensiklik Dives in Misercordia (Belas kasih Tuhan, 30 November 1980), Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa belas kasih Tuhan adalah atribut terbesar dari Allah Bapa. Hal ini pernah dituliskan di sini, silakan klik. Inilah sebabnya, Paus Yohanes Paulus II memberikan 58 pengajaran tentang Allah Bapa dari 16 Januari 1985 sampai 25 Juni 1986, yang dilanjutkan dengan 28 pengajaran pada tahun 1999, tahun Allah Bapa.

Jadi, dalam evangelisasi, kita harus memberitakan belas kasih Allah sebagai kabar gembira utama. Karena belas kasih Allah inilah, yang membuat Dia memberikan Putera-Nya, yang terkasih untuk menebus dosa manusia (lih. Yoh 3:16). Dialah Bapa yang senantiasa menantikan anak yang hilang untuk kembali ke rumah Bapa. (lih. Lk 15:11-32) Akhirnya, demonstrasi kasih ini dimanifestasikan secara penuh pada peristiwa penyaliban Kristus, di mana Bapa merelakan Anak-Nya yang tunggal mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.

2. Dimensi ekklesiologi (Gereja)

Bagaimanakah kita menjawab kasih Yesus yang sedemikian sempurna dan tak terhingga, yang telah dibuktikan-Nya dengan mati di kayu salib? Kalau kita ingin mengasihi Yesus secara penuh, maka kita juga harus mengasihi Tubuh-Nya, yaitu Gereja Katolik. (lih. Ef 5) Bahkan dikatakan bahwa Gereja dikandung pada waktu air dan darah mengalir dari sisi Yesus ketika Dia tergantung di kayu salib. Gereja lahir dari proses evangelisasi dari Kristus dan para rasul. Dan kelahiran Gereja dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentakosta, di mana ketika para murid telah menerima Roh Kudus, mereka mewartakan kabar gembira, sehingga pada hari yang sama 3000 orang memberikan diri untuk dibaptis. (Kis 2:1-41). Dengan demikian, evangelisasi tidak dapat dipisahkan dari Gereja, karena fokus dari evangelisasi adalah Kristus dan Kristus adalah Kepala dan Mempelai Pria dari Gereja. Tidak membawa dimensi Gereja dalam evangelisasi adalah mewartakan Kristus yang tidak lengkap. Oleh karena itu, dalam evangelisasi, kita tidak dapat memisahkan diri dari Gereja Katolik dan harus senantisa mewartakan dogma dan doktrin yang telah ditetapkan oleh Magisterium Gereja, karena semuanya bersumber pada Kitab Suci dan Tradisi Suci.

3. Dimensi soteriologi (keselamatan)

Kasih Allah bukanlah menawarkan kebahagiaan sementara, namun kebahagiaan kekal di dalam Kerajaan Allah. Inilah sebabnya, Yesus berjalan berkeliling dan memberitakan Kerajaan Allah (lih. Mt 4:17). Untuk inilah Kristus datang, yaitu memberitakan Kerajaan Allah dan membawa umat Allah masuk ke dalam Kerajaan Allah. Oleh karena itu, evangelisasi yang menekankan kebahagiaan duniawi, kemakmuran sementara tidaklah menyampaikan pesan Kristus secara murni. Oleh karena itu, Paus Paulus VI dalam Evangelii Nuntiandi menekankan pentingnya seseorang dengan berani memikul salib, mengikuti Yesus, karena menaruh pengharapan pada kebahagiaan kekal di Sorga dan bukan pada kebahagiaan di dunia ini.

4. Dimensi pertobatan dan kesaksian hidup

Kasih Allah yang ditawarkan oleh manusia yang berdosa, hanya mungkin diterima oleh manusia dengan pertobatan sebagai langkah pertama. Lebih tepatnya, Roh Kuduslah yang bertindak untuk menyadarkan manusia akan segala dosanya. Hanya melalui pertobatan yang sejati, maka rahmat Allah dapat mengalir kepada manusia. Oleh karena itu, semua orang yang terlibat dalam evangelisasi haruslah mengalami pertobatan sejati terlebih dahulu, sehingga dia dapat juga menjadi alat Tuhan untuk membawa pertobatan bagi orang lain. Orang yang telah mengalami pertobatan yang sejati tidak akan menjadi manusia yang sama lagi, karena dia telah mati terhadap dosa bersama dengan Kristus (lih. Rm 6:4). Kematiannya dari dosa, membuatnya terbuka terhadap rahmat Allah. Dan sebagai akibatnya, maka kekudusan akan mewarnai kehidupannya. Dan pada saat seseorang menampakkan buah-buah kekudusan, maka dia telah menampakkan buah-buah evangelisasi, yang akan terus berkembang dan mempengaruhi keluarga dan komunitas di sekitarnya. Inilah buah evangelisasi yang otentik. Paus Paulus VI mengatakan:

“Manusia modern, secara sukarela lebih mendengarkan para saksi daripada para pengajar, dan jika dia mendengarkan para pengajar, hal tersebut disebabkan karena mereka [para pengajar] adalah para saksi”

“Mengasihi sesama” adalah buah dari evangelisasi baru

Orang sering salah melangkah dengan mencoba aktif dalam kegiatan-kegiatan tanpa landasan spiritualitas yang baik. Atau dengan kata lain, orang sering mencoba untuk mengasihi sesama dengan cara aktif dalam kegiatan Gereja tanpa landasan kasih kepada Allah. Tanpa berlandaskan kasih Allah, seseorang yang mencoba aktif dalam evangelisasi tidak akan bertahan lama, karena tinggal menunggu waktu, maka akan terjadi keributan, ketidakcocokan dengan teman, dan akhirnya akan tercerai berai. Hal ini sama seperti membangun rumah di atas pasir (lih.Mt 7:26), yang tidak akan bertahan pada waktu badai menerpa. Jadi, untuk dapat melakukan evangelisasi, maka kita harus mengasihi Tuhan. Dengan demikian, semua kegiatan gereja dan kegiatan evangelisasi adalah merupakan buah dari kasih kita kepada Allah.

1. Evangelisasi menjangkau semua bahasa dan semua agama, termasuk umat Katolik.

Karena sesama kita adalah semua bangsa, tidak memandang suku, bahasa, agama, maka evangelisasi juga harus diwartakan ke semua orang, karena Allah menghendaki keselamatan bagi semua orang. Pewartaan kabar gembira dan kabar keselamatan ini adalah merupakan bentuk kasih kita sesama yang berdasarkan kasih kepada Tuhan. Hal ini diperintahkan oleh Yesus sendiri, ketika Dia mengatakan “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mt 16:15). Kalau kasih adalah “menginginkan yang baik bagi orang yang dikasihi” dan tidak ada kebaikan yang lebih daripada keselamatan kekal, maka evangelisasi ke semua bangsa adalah merupakan bentuk kasih. Berikut ini adalah golongan yang yang harus dicapai dalam misi evangelisasi baru:

a) Orang-orang yang belum mengenal Kristus berhak untuk mendengarkan kabar gembira. Ini adalah misi yang diberikan Kristus kepada Gereja untuk membuat segala bangsa mendengar kabar gembira. Cara-cara yang dapat digunakan untuk menjangkau semua orang dapat berbentuk pemberitaan secara langsung melalui kotbah, namun juga dapat melalui seni, pendekatan ilmu pengetahuan, filosofi dan cara-cara yang sah untuk menyentuh hati manusia. Kita juga harus mengingat bahwa anak-anak juga termasuk orang-orang yang belum mendengar Kabar Gembira. Oleh karena itu, setiap orang tua harus melakukan evangelisasi di dalam rumah masing-masing, sehingga anak-anak dapat bertumbuh dalam iman.

b) Orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan berhak untuk mengetahui kebenaran yang membebaskan. Dunia saat ini, banyak dipenuhi dengan orang-orang yang tidak percaya akan Tuhan, yang hanya percaya sesuatu yang terlihat, sesuatu yang empiris, pragmatis, materialisme, sekularisme, yang disebut oleh Hendri de Lubac sebagai “the drama of atheistic humanism“. Pada akhirnya semuanya ini hanya akan mendatangkan kekecewaan, kekosongan dan kehampaaan, karena tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Orang-orang yang telah diubah oleh Kristus harus dapat menunjukkan kepada golongan ini, bagaimana kebahagiaan sejati hanya dapat dicapai di dalam Kristus, silakan klik. Oleh karena itu, orang-orang percaya harus dapat menunjukkan kebahagiaan di dalam Kristus walaupun sedang menghadapi percobaan, sakit, dll. Kita harus mengingat apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Rm 8:35). Dan hal yang dapat dilakukan adalah berdialog dengan mereka, yaitu dengan menggunakan akal-budi (reason) maupun “argument of the heart“, yang menceritakan bagaimana seseorang telah diubah oleh Kristus dan memperoleh kehidupan yang baru, penuh kebahagiaan, kekuatan untuk menghadapi kehidupan, dan pengharapan yang tak tergoyahkan akan Kerajaan Sorga.

c) Orang-orang beragama non-Kristen berhak untuk mengetahui kepenuhan kebenaran yang ditawarkan Kristus. Mewartakan Kristus kepada umat dari agama non-Kristen adalah sesuatu yang harus kita lakukan, karena Injil atau Kabar Gembira diperuntukkan untuk semua golongan. Gereja Katolik melihat bahwa ada kebenaran dalam setiap agama, termasuk kebenaran dalam agama-agama non-Kristen, walaupun kebenaran ini tidak penuh seperti yang diajarkan Kristus. Percikan kebenaran dalam agama- agama lain dipandang oleh Gereja sebagai persiapan untuk menerima Injil.. Maka untuk berdialog dengan mereka, maka kita harus menunjukkan bagaimana Yesus Kristus adalah benar-benar Allah. Kita dapat menggunakan argumentasi filosofis sebagai dasar pijakan yang sama.

d) Orang-orang Kristen non-Katolik berhak untuk mengetahui kepenuhan kebenaran di dalam Gereja Katolik. Di dalam ensiklik Ecclesiam Suam (ES), Paus Paulus VI menegaskan bahwa kita dapat berbicara tentang hal-hal yang mempersatukan kita, namun tidak dapat berkompromi terhadap integritas iman Katolik, baik dogma maupun doktrin yang berakar pada Alkitb, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, yang dapat ditelusuri dari perkembangan doktrin. Harus ditunjukkan bahwa dogma dan doktrin bukanlah merupakan spekulasi teologi, namun bersumber pada keinginan dan mandat dari Kristus sendiri.

e) Orang-orang Katolik harus menyadari bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik. Yang tidak boleh dilupakan dalam evangelisasi baru adalah umat Katolik sendiri. Dalam kasus di atas, di mana setengah dari umat Katolik di Amerika memilih calon presiden yang mendukung aborsi, maka kita melihat kenyataan yang menyedihkan, bahwa banyak umat Katolik yang tidak benar-benar mengetahui akan iman Katolik. Banyak dari antara mereka terjebak dengan pendapat bahwa semua agama adalah sama saja. Banyak dari mereka berfikir bahwa iman dan kehidupan nyata adalah dua hal yang berbeda, seolah-olah iman hanya digunakan pada hari Minggu, pada waktu ke gereja. Ada sebagian yang berpendapat bahwa seseorang dapat memilih-milih dogma maupun doktrin, di mana yang sesuai dengan keinginan pribadi diterima dan yang tidak sesuai ditolak. Dengan demikian iman direduksi menjadi suatu pendapat yang kebenarannya relatif dan dapat berbeda antara yang satu dengan yang lain. Betapa banyak umat Katolik yang perlu membaca deklarasi Dominus Iesus (silakan klik), agar dapat semakin mengenal akan imannya!

Keadaan ini sebenarnya menciptakan toleransi yang semu, yang menempatkan kebenaran sebagai sesuatu yang relatif. Untuk itulah, semua elemen di dalam Gereja Katolik harus menjangkau umat, agar mereka dapat benar-benar meyadari kekayaan Gereja Katolik yang begitu indah dan benar. Menyadari bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik. Dan berjalan dengan tegak bahwa dirinya telah menjadi anggota Gereja Katolik, namun dibarengi dengan kerendahan hati, karena menyadari bahwa iman adalah pemberian Tuhan dan menyadari sulitnya berjuang untuk hidup kudus. Dengan demikian, tidak ada yang dapat dibanggakan dari diri kita, kecuali menceritakan kasih dan rahmat Allah yang telah tercurah dalam kehidupan kita masing-masing.

Kita juga perlu menyadari bahwa ada yang perlu diperbaiki dalam proses katekese. Kalau seseorang yang telah belajar iman Katolik selama setahun dan kemudian setelah dibaptis dapat berpindah ke agama lain dengan alasan hangatnya komunitas, indahnya kotbah dari gereja lain, dan alasan pribadi yang lain, maka dapat dikatakan bahwa ada yang salah dalam proses katekese tersebut (silakan memberikan masukan pada proses katekese di sini – silakan klik). Oleh karena itu, semua pihak yang terlibat dalam proses katekese harus benar-benar mengerti dan mengasihi iman Katolik dan mempunyai hati yang mengasihi Yesus dan Gereja-Nya. Dia juga harus mengajarkan apa yang memang diajarkan oleh Magisterium Gereja dan senantiasa berada dalam kesatuan dengan Gereja, baik Gereja Lokal (tingkat paroki maupun tingkat keuskupan) dan juga gereja semesta.

2. Cara yang bijaksana perlu diterapkan dalam evangelisasi baru

Kasih bukanlah kasih kalau memaksa. Oleh karena itu, evangelisasi – sebagai bentuk kasih – tidak boleh dilakukan dengan paksaan. Kita harus mempresentasikan iman Katolik dengan penuh hormat dan kelemahlembutan (lih. 1 Pet 3:15), sehingga orang-orang dapat melihat keindahan akan dogma dan doktrin Gereja Katolik. Dan keindahan ini dapat lebih bersinar, ketika dogma dan doktrin diterapkan dalam kehidupan nyata, yaitu dalam perjuangan untuk hidup kudus. Bahkan kekudusan dapat didefinisikan sebagai hidup menurut dogma dan doktrin.

Kasih bukanlah kasih kalau tidak disertai dengan kebenaran. Kalau kasih adalah menginginkan sesuatu yang baik untuk orang yang dikasihinya, maka kalau kita tidak mewartakan kebenaran, sebenarnya kita tidak memberikan yang baik bagi orang yang kita kasihi. Oleh karena itu, kita tidak perlu takut kalau ada perbedaan pendapat, pandangan dalam hal iman. Justru perbedaan ini, harus menjadi kesempatan bagi kita untuk mewartakan kebenaran.

Namun, untuk mewartakan kasih yang disertai kebenaran diperlukan kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan, maka maksud baik kita akan dapat disalahartikan dan menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, kita harus mengingat apa yang dikatakan oleh Yesus, yaitu “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mt 10:16) Jadi, kalau kita mengenal latar belakang, permasalah, budaya, dari orang-orang yang mau diberitakan, maka kita akan dapat memberitakan Injil secara efektif. Kita harus tahu apakah yang mendengarkan pewartaan adalah anak-anak muda, orang-orang tua, pendidikan mereka, sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih efektif dan berdaya guna. Evangelii Nuntiandi menekankan akan pentingnya evangelisasi bagi kaum muda, di mana mereka perlu mendengar semangat dan ide dari Injil yang sangat baik sebagai sesuatu yang harus diketahui dan diikuti.

Dalam perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (silakan klik), Yesus mengatakan “Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang” (Lk 16:8). Pada jaman ini, kita melihat informasi tersebar begitu luas dan cepat dengan penggunaan media masa, yang bahkan sering digunakan untuk menyebarkan informasi yang bertentangan dengan semangat Injil. Paul Paulus VI menekankan pentingnya penggunaan media masa untuk menyebarkan kebenaran Injil, sehingga semua orang dari segala bangsa dapat mendengarkan kabar gembira, karena kabar gembira harus diberitakan secara lantang dari atap-atap rumah (lih. Mt 10:27). Dan inilah juga yang diserukan berkali-kali oleh Paus Benediktus XVI, di mana dia mengatakan “Young people in particular, I appeal to you: bear witness to your faith through the digital world!” Sudah saatnya dunia yang dipenuhi dengan informasi yang bertentangan dengan kebenaran dapat juga dibendung dengan informasi tentang Sang Kebenaran, yaitu Yesus Kristus, yang dapat menuntun manusia pada keselamatan kekal, karena Dia adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup! (lih. Yoh 14:6).

Penutup

Mungkin ada yang bertanya-tanya, setelah membaca artikel di atas: Apanya yang baru dari evangelisasi baru? Memang tidak ada yang baru dari sisi kebenaran yang diberitakan, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibr 13:8) Kalau kita perhatikan tidak ada doktrin yang baru yang diberikan oleh Konsili Vatikan II. Tidak ada yang baru dalam dua perintah utama, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama atas dasar kasih kepada Tuhan. Tidak ada yang baru pada dimensi Trinitas dan ekklesiologi, dimensi soteriologi, dimensi pertobatan dan kesaksian hidup. Kita harus tetap memberitakan semua kebenaran ini, karena kebenaran-kebenaran tersebut dapat menuntun seseorang kepada keselamatan kekal. Mereduksi kebenaran tidak dapat dibenarkan, karena Yesus sendiri mengatakan “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mt 28:20) dan bukan “sebagian perintah” atau “perintah yang saya suka” atau “perintah yang gampang“.

Dapat dikatakan bahwa yang baru adalah situasi jaman, yang memang semakin bertentangan dengan semangat Injil. Dunia yang dipenuhi dengan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (lih. 1 Yoh 2:16). Dunia yang diwarnai dengan kebohongan materialisme, individualisme, dan sekularisme, relativisme, dengan gampangnya menyeret manusia dan bahkan umat Katolik sendiri untuk terlena dalam kenikmatan dunia yang bertentangan dengan kebahagiaan Sorga. Di tengah-tengah sebagian umat Katolik yang suam-suam kuku, tidak mempunyai daya untuk menjadi saksi Kristus yang baik, tidak mempunyai semangat untuk mewartakan kebenaran, maka “evangelisasi baru” menyerukan kembali seruan untuk berdiri tegak sebagai umat Katolik, percaya akan kepenuhan kebenaran yang ada di dalam Gereja Katolik, dan dengan penuh kebijaksanaan menyerukan kebenaran ini ke segala bangsa. Untuk itu, evangelisasi baru harus dimulai dari dalam Gereja Katolik sendiri dan pada saat yang bersamaan mewartakan Yesus yang tersalib dan bangkit ke segala bangsa. Semua komponen dalam Gereja Katolik, baik dalam hirarki, klerus, yang tergabung dalam ordo religius, dan kaum awam, harus bahu-membahu dalam membangun Gereja. Dan semuanya harus dimulai dengan menjadi saksi Kristus yang baik, yaitu dengan hidup kudus dan pewartaan tanpa henti dengan menggunakan cara-cara yang strategis dan bijaksana.

Mari, dalam kapasitas kita masing-masing, kita bertanya:

“Apakah yang telah saya lakukan untuk Kristus dan Gereja-Nya,
sebagai tanda kasihku kepada Allah?“

Rewrite from :

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” (Mat 13:31-32)

Comments are closed.